Headlines News :
Powered by Blogger.
Showing posts with label peristiwa. Show all posts
Showing posts with label peristiwa. Show all posts

Camat Kasembon Siapkan Tim Tanggap Bencana Gunung Kelud

MALANG, ArtiNews - Peningkatan status Gunung Kelud dari Waspada menjadi Siaga, membuat beberapa daerah dalam radius letusan Gunung Kelud, seperti Kediri, Blitar, dan Kabupaten Malang untuk melakukan beberapa persiapan tanggap bencana, seperti menyiapkan tempat-tempat pengungsian warga.

Di Kabupaten Malang, daerah yang masuk dalam radius letusan Gunung Kelud adalah Kecamatan Kasembon. Kecamatan pertama masuk Kabupaten Malang dari arah arah utara-barat. Sebagai langkah tanggap bencana, Camat Kasembon, Mochamad Soleh, menggelar rapat koordinasi bersama Muspika.

Moch Soleh menuturkan, daerahnya berjarak 5 Sampai 10 km dari gunung tersebut. Sebab itu, pihaknya melakukan antisipasi, mulai dari pendataan jumlah warga dan juga harta benda termasuk jumlah ternak yang dimiliki oleh warga.

Selain itu, pihaknya juga telah membentuk panitia penanggulangan bencana yang langsung dikomandaninya, serta dibantu oleh Kapolsek serta Danramil setempat, beserta relawan yang berasal dari beberapa daerah.

"Hal ini perlu dilakukan, mengingat jika nantinya statusnya meningkat dari Siaga menjadi Awas, pihaknya bisa segera merelokasi warga ke tempat pengungsian yang telah disediakan di beberapa titik lokasi aman," katanya, Selasa (11/2/2014).

Pihaknya juga menghimbau agar masyarakat tidak panik. Namun, tetap waspada sembari menunggu komando atau instruksi dari pihak panitia penanggulangan bencana.

"Kami akan terus memantau perkembangan dan akan selalu berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait guna memperoleh informasi status dari gunung Kelud tersebut," ujarnya. (yusufi/ henky)

Tiga Taman Bernilai Miliaran, Tak Terawat dan Mulai Kumuh

MOJOKERTO, ArtiNews - Gara-gara tidak terawat, kondisi di tiga taman di Kota Mojokerto, yakni Taman Benpas, Taman Kehati dan Alon-alon, mulai tampak kumuh. Kondisi ini membuat kalangan anggota DPRD Mojokerto angkat bicara. Leading sektor kebersihan dan pertamanan dinilai tak becus menjabarkan tupoksi. Dewan pun mengaku menyesal menyetujui penyerapan APBD miliaran rupiah untuk proyek tiga taman yang sedianya dijadikan paru-paru kota.

"Tiga taman kota terkesan dibiarkan tak terawat. Ini karena DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Mojokerto) tak menangani secara serius. Kami menyesal telah menyetujui pembangunan ruang terbuka hijau semacam ini," kata Sekretaris Komisi II DPRD Kota Mojokerto, Sonny Basuki Rahardjo, Senin (03/02/2014).

Diketahui, APBD 2013 digelontorkan untuk Taman Benteng Pancasila (Benpas) Rp 1,1 miliar, rehab Alun-alun senilai Rp 4,8 miliar dan Taman Kehati dari APBN Rp 700 juta.

Di tiga taman itu, tumbuh banyak rumput liar. Ketinggian rumput bahkan ada yang mencapai 40 cm. Cat areal bermain anak bahkan sudah banyak yang mengelupas. Kondisi tak kalah tragis terjadi di Taman Kehati. Tidak hanya penuh rumput, tembok di bagian podium theater terbuka dihiasi lukisan grafiti dari tangan-tangan tak bertanggungjawab. Aksi corat-coret ini juga tampak di ikon apel di tengah taman ini.

"Ini bisa dilihat sendiri, lampu tamannya juga roboh dan bohlamnya banyak hilang. Tapi dibiarkan saja," ungkap Munawar, warga Griya Permata Ijen.

Hal yang sama diungkapkan Achmad Rusyad Manfaati, anggota Komisi II lainnya. Ia menuding DKP tak punya konsep soal pemeliharaan taman-taman itu.

"DKP miskin konsep. Meski membidangi pertamanan tapi enggan menyentuhnya," kecam Gus Falut -sapaan akrab Achmad Rusyad.

Politisi PKB tersebut meminta Walikota tegas menyikapi persoalan kebersihan ini. "Kalau dibiarkan jelas eman. Wong mbangunnya pakai biaya yang tidak sedikit," kesalnya. [saj/rif]

Hasil Otopsi Korban Longsor Jombang; Hampir Semua Luka Memar, Patah Tulang

JOMBANG, ArtiNews - 14 jenazah korban bencana tanah longsor di Dusun Kopen, Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng, Jombang, Jawa Timur, hampir semuanya mengalami luka memar, patah tulang, serta tubuh membiru. Hal itu disebabkan benturan benda keras, seperti batu, kayu rumah, serta tembok rumah.

Begitulah hasil otopsi dari tim Disarter Victim Identification (DVI) Polda Jatim terhadap jenazah para korban bencana longsor Dusun Kopen.

"Tubuh yang rata-rata membiru itu pertanda mereka kehabisan pernapasan," kata Kasubid Dokpol Bidang Dokes Polda Jatim AKBP drg Waluyo Nugroho, memimpin jalannya proses indentifikasi, Senin (3/2/2014).

Waluyo menjelaskan, ke-14 korban itu ditemukan secara bertahap. Untuk hari pertama bencana, Selasa (28/1/2014), ditemukan 7 jenazah korban. Kemudian hari ke-3, Kamis (30/1/2014) dijumpai 5 korban, dan terakhir atau hari kelima, Sabtu (1/2/2014), ditemukan dua jenazah.

Untuk korban yang ditemukan hari pertama, mereka tidak dibawa ke RSUD Jombang guna menjalani otopsi. Sebab, secara fisik tujuh korban itu mayatnya masih utuh, sehingga masih bisa dikenali.

"Selain bisa dikenali lewat fisik, kita juga masih bisa mengenali lewat properti. Seperti pakaian, rambut, anting, gelang, kalung, dan sebagainya," tambah Waluyo.

Ini berlainan dengan korban yang ditemukan pada pencarian hari ketiga dan kelima. Tujuh jenazah korban yang ditemukan hari ketiga dan kelima ini harus menjalani otopsi dan identifikasi di RSUD Jombang. Pasalnya, kondisi mayat sudah mengembung dan sulit dikenali.

Bahkan, meskipun anggota tubuh mereka masih lengkap, namun ada beberapa bagian yang terputus dari raga. Karena itu, untuk mengenali identitas korban, petugas menelusurinya lewat sidik jari.

Teknisnya, petugas membandingkan sidik jari jenazah korban dengan yang tersimpan di data kependudukan. "Jadi tidak sampai harus menggunakan metode uji DNA (deoxyribonucleic acid)," jelasnya.

Seperti diberitakan, tanah longsor melanda Dusun Kopen, Desa Ngrimbi, Kec Bareng, Jombang, Selasa (28/1/2014) dinihari. Akibatnya, 14 orang tewas tertimbun longsor. [tri]

Warga Adukan Limbah Pabrik Kertas PT Gaya Baru Paperindo

MALANG, ArtiNews - Perwakilan warga mengirim surat pengaduan ke Kades Panggungrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, terkait limbah pabrik kertas PT Gaya Baru Paperindo, Senin (3/2/2014).

"Limbah di pabrik itu sistemnya open dumping. Warga menduga itu adalah kejahatan lingkungan," kata Dheny Satuli, warga Desa Gampingan, Kecamatan Pagak usai menyerahkan surat pengaduan ke Kantor Desa Panggungrejo.

Limbah itu, kata Dheny, dari pabrik dibuang ke irigasi warga, baru kemudian mengalir ke Sungai Metro. Dampaknya, ada petani yang gagal panen, sumber air tidak dapat dimanfaatkan, warga tidak bisa mencari ikan dan air sungai menimbulkan rasa gatal.

Warga kemudian berinisiatif mengambil sampel air dan diujikan di Lab Jasa Tirta dan di FMIPA jurusan Kimia Universitas Brawijaya periode November 2013 dan Januari 2014. Hasilnya, tidak memenuhi baku mutu limbah.

"Tujuan kami mengirim surat ke Pemdes Panggungrejo adalah agar terjadi pembenahan masalah limbah. Jika tidak, warga mengancam melakukan gerakan massa," katanya.

"Ya nanti akan saya tindak lanjuti. Saya juga sudah ke BLH (Badan Lingkungan Hidup). Kalau yang bertindak sendiri, bukan kewenangan saya. Nanti biar sama-sama bergerak dengan BLH," Kades Panggungrejo, Edy Isnomo mengomentari protes warganya. [tri]

Soal Jual Kios Ilegal, PT KAI Kembali Didemo dan Dihadiahi Pantat

JOMBANG, ArtiNews - Untuk kali kedua, puluhan korban praktik penipuan PT KAI (persero) melakukan aksi unjukrasa di depan stasiun Jombang, Selasa (28/1/2014). Bersama LSM ARAK (Aliansi Rakyat Anti Korupsi), massa menuntut PT KAI (Kereta Api Indonesia) Daop (daerah operasi) VII Madiun bertanggung jawab dan segera mengembalikan semua uang korban penipuan kios ilegal PT KAI. Selain itu, massa menuntut Dirut PT KAI Ignasius Jonan agar memecat Sugiono, mantan Wakil Kepala Stasiun Jombang, yang diduga menjadi dalang penipuan kios ilegal.

Dalam orasinya, massa juga menuntut agar Menteri BUMN, Dahlan Iskan dan Dirut PT KAI, Ignasius Jonan, memecat Kepala Kantor PT KAI Daop VII Madiun, Ahmad Najib Tawangalun dari jabatannya jika tak mampu mampu menyelesaikan persoalan ini.

"Kami tidak ingin, PT KAI, perusahaan milik negara ini dijabat oleh pejabat yang bobrok," lantang Safri Nawawi, Koordinator LSM Arak Jatim.

Tidak sekedar berorasi, di hadapan polisi dan anjing pelacak yang memblokade aksi ini, PT KAI dihadiahi pantat terbuka. "Ini sebagai hadiah untuk PT KAI yang bobrok dan busuk, sama dengan yang keluar dari pantat kami," lantangnya sambil membuka celananya.

Menurut Safri Nawawi, kasus ini berawal pada pertengahan 2010 silam. Pihak PT KAI menawarkan penjualan kios (tempat berjualan) berukuran 3x4 meter yang berlokasi di sebelah timur stasiun KA Jombang kepada masyarakat dengan harga Rp 40 juta per kios. Pada Juni 2010, peminat kios diminta membayar uang muka sebesar 50 persen, atau Rp 20 juta kepada PT KAI. Mereka menjanjikan kios bisa ditempat jelang Idul Fitri 1431 H atau September 2010. Tapi, janji itu luput, dan PT KAI kembali berjanji jika akhir tahun 2010, kios sudah bisa digunakan. Lagi-lagi, janji itu cuma omong kosong. Bahkan, kios yang ditawarkan itu sudah dibongkar dan rata dengan tanah, sebelum kios itu difungsikan oleh sedikitnya 13 pembeli kios.

"Yang menyakitkan, uang sebesar Rp 20 juta itu hingga kini tidak dikembalikan oleh PT KAI. Padahal korban bersusah payah mencari uang tersebut, bahkan mereka rela hutang ke KSP yang dicicil tiap bulan beserta bunganya, karena mereka ingin berdagang. Kami sudah berunjukrasa disini (Stasiun Jombang, red) pada 14 Mei 2013 lalu, tapi PT KAI tidak ada itikad baik. Mereka hanya memberi janji-janji kosong kepada korban," tegas Safri.

"Anehnya lagi, PT KAI membuat putusan gila. Sugino, mantan Wakil Kepala Stasiun Jombang, yang terlibat langsung kios fiktif ini, bukannya diberi sanksi. Malah ia diberi jabatan sebagai asisten manager PT KAI Daop VII Madiun. Ini menambah daftar bobroknya PT KAI," teriaknya.

Lama berorasi, akhirnya 5 perwakilan pendemo ditemui pihak Stasiun KA Jombang di ruang Kepala Stasiun. Sayangnya, dalam pertemuan itu, wartawan tidak diperkenankan masuk oleh petugas satpam dan polisi.

"Hasil pertemuan tadi ternyata masih buntu, tidak ada solusi terhadap tuntutan kami, terutama pengembalian uang muka 50 persen itu. Untuk itu, kami memberi deadline dua minggu agar tuntutan kami direalisasikan. Jika tidak, kami kembali berdemo. Kalau perlu menginap di stasiun KA Jombang, sampai uang korban penipuan dikembalikan," ujar Safri, pasca ditemui pihak Stasiun KA Jombang. (rief)

Diduga Bocor, Pengusaha Galian C Ilegal Berhasil Kabur Saat Digrebek

JOMBANG, ArtiNews - Meski tidak berhasil menangkap pemilik atau pengusaha galian C. Kepolisian Resort (Polres) Jombang akhirnya menyita barang bukti berupa sebuah alat berat (bechoe) di tambang Dusun Karangasem, Desa Karangdagangan, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Kab Jombang, Jawa Timur. Ini setelah Polres Jombang menggerebek tambang dengan lahan seluas kurang lebih 2 hektare ini.

Kuat dugaan pengerebekan itu sudah bocor. Karena pemilik galian bernama Antok sudah kabur terlebih dulu sesaat sebelum petugas datang. Otomatis, polisi hanya menangkap tiga sopir truk, petugas ceker dan operator bechoe untuk menjalani pemeriksaan. "Pemilik galian sudah kabur terlebih dulu," ujar Kepala Sub Bagian Humas Polres Jombang, AKP Sugeng Widodo, Jumat (17/1).

Widodo menjelaskan, tiga truk yang diamankan itu masing-masing bernopol S 8526 UX, S 8460 UX dan AG 8171 UB. Ketiga truk pengangkut sirtu yang saat ini berada di Mapolres itu diduga milik PT Agro Bahtera Mandiri. Sedangkan satu unit bechoe besar diamankan terpisah, di halaman Satlantas Polres Jombang.

Eksplorasi galian C tersebut, terang Widodo, melanggar tindak pidana lingkungan hidup. Bahkan melanggar dua UU sekaligus. Masing-masing UU nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara (Minerba) serta UU nomor 32 tahun 209 tentang Perlindungan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Berdasarkan data yang ada di Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jombang, galian C illegal di Dusun Karangasem, Desa Karangdagangan, Kecamatan Bandarkedungmulyo merupakan satu dari 20 titik galian yang kondisinya cukup memprihatinkan.

Galian berdekatan dengan konstruksi jalan tol trans Jawa Kertosono – Jombang ini tingkat kerusakan akibat ekploitasi dinilai tak lagi bisa ditoleransi. Meninggalkan cekungan dengan kedalaman 15 sampai 20 meter.

Tak urung kondisi tersebut mengancam keselamatan warga sekitar lokasi galian. Karena sewaktu-waktu bisa terjadi kelongsoran. Menyusul lokasinya berjarak 50 – 100 meter dari permukiman penduduk kedalaman atau ketiggian galian akibat pengerukan bechoe. [bej/rif]

Dilarang Berjualan, Ratusan Pedagang Asongan Demo

PASURUAN, ArtiNews – Lantaran dilarang berjualan di Stasiun Bangil, sekitar 500 pedagang asongan yang tergabung dalam Paguyuban Asongan Daop 8 menggelar unjukrasa di gedung DPRD Kabupaten Pasuruan, Kamis (16/1).

Aksi unjuk rasa ratusan pedagang asongan ini sebagai wujud solidaritas seluruh pedagang asongan untuk menolak pelarangan berjualan lantaran sudah merupakan sumber penghasilannya sehari-hari.

Sejumlah poster dan spanduk berisi tuntutan dibentangkan oleh para pengunjuk rasa diantaranya 'TNI-Polri milik rakyat bukan antek PT KAI', PT KAI merampas usaha rakyat, hapus preman berseragam Polsuska', dan lain sebagainya.

Ketua Paguyuban Asongan Nasional Daop 8, Iwan Susanto mengatakan, pihaknya memprotes keberadaan Polsuska yang kerap berlaku kasar kepda para pedagang asongan saat berjualan.

"Kita diusir, diseret dan didorong saat masuk kereta. Bahkan di sejumlah lokasi, kami dihadapkan dengan anggota marinir," kata pria berusia 50 tahun ini.

Kendati demikian, ia meminta kepada para pedagang asongan agar tidak melawan petugas dan tetap berhati dingin. "Ditembak pun kami tidak akan melawan," tegas Iwan.

Usai puas berorasi di gedung dewan, pengunjuk rasa kemudian melanjutkan aksinya dengan berjalan kaki sejauh 4.5 kilometer menuju Stasiun Bangil. [wab/rif]

Suami Khofifah Indar Parawansa Wafat

JAKARTA, ArtiNews - Innalillahi wainna ilaihi rojiun, Indar Parawansa, suami dari Ketua Umum Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, meninggal dunia di usianya yang ke-53 tahun. Indar diketahui meninggal dunia di rumah sakit di Palu, Sulawesi.

Menurut Ketua DPP PKB, Marwan Jafar, Indar sudah lama menderita sakit stroke dan gula. Namun, dikabarkan Indar meninggal dunia karena serangan jantung.

"Iya (meninggal dunia). Sakitnya sudah lama, persisnya saya tidak tahu. Kalau stroke dan gula, dengar-dengar itu. Menurut kabar meninggalnya karena jantung," kata Ketua DPP PKB, Marwan Jafar, Jakarta, Rabu (15/1/2014).

Diketahui, Khofifah mengabarkan bahwa suaminya, Indar Parawansa meninggal dunia di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (15/1/2014).

“Innalillahi wainna ilaihi rojiun, baru saja wafat suami saya Indar Parawansa, di Palu,” kata Khofifah dalam pesan singkatnya, Jakarta, Rabu (15/1/2014).

Jenazah akan dimakamkan di rumah duka, Surabaya, di jalan Jemur Sari VIII/24 Surabaya. Khofifah meminta agar kesalahan sang suami dimaafkan. [bej/rif]

Wow.. 40 Persen Buruh di Mojokerto Tak Miliki Jamsostek

MOJOKERTO, ArtiNews - Hampir separuh jumlah buruh di Kabupaten Mojokerto tak memiliki Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek). Alhasil, mereka terancam tak mendapatkan subsidi BPJS kesehatan.

Dari catatan DPRD Kabupaten Mojokerto menyebutkan, sedikitnya 40 persen buruh di Kabupaten Mojokerto tak memiliki jamsostek.

Wakil Ketua Komisi D Bidang Kesejahteraan Masyarakat (Kesra), DPRD Kabupaten Mojokerto, Mahfud Kurniawan mengatakan, saat ini masih ada 40 persen buruh di Mojokerto belum mempunyai jamsostek. "Sehingga, mereka tidak masuk data BPJS sebagai penerima Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)," ungkapnya, Rabu (15/01).

Secara otomatis, lanjut Mahfud, sekitar 40 persen buruh di Kabupaten Mojokerto tidak bisa masuk BPJS Kesehatan karena sebelumnya tak masuk BPJS kesehatan. Menurutnya, puluhan ribu buruh yang belum punya jamsostek faktornya diduga karena tidak didaftarkan oleh perusahaanya atau menggunakan asuransi lainnya.

"Masalah ini akan kita dibahas bersama Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang terkait, untuk segera dicarikan solusi yang terbaik. Dengan tujuan agar semua buruh di Kabupaten Mojokerto memiliki asuransi kesehatan," tandasnya. [bej/rif]

Puluhan Warga Demo, Tuntut Perbaikan Jalan

Pasuruan, ArtiNews - Puluhan warga dari perwakilan empat desa di Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan berdemo menuntut perbaikan jalan di daerah setempat, Selasa, (15/1).

Dalam aksinya, perwakilan warga dari desa Tanggulangin, Kepoh,Randugong, dan Kejayan yang melakukan demo itu menuntut kepada Pemkab Pasuruan untuk memperbaiki jalan di desa setempat yang kondisinya rusak parah.

Tampak sejumlah para peserta demo yang terdiri dari bapak-bapak dan ibu-ibu dan juga remaja putra maupun putri itu melakukan aksinya dengan berjalan kaki sambil membentangkan poster dan baner yang berisikan tuntutan mereka tersebut hingga sampai di pertigaan jalan raya Kejayan.

"Kami hanya meminta kepada pemerintah dan pengusaha penambangan yang ada di daerah kami ini untuk peduli terhadap lingkungan dan kesehatan warga di sini," ucap Ali, koordinator aksi.

Ia menjelaskan kalau yang membuat rusaknya jalan di daerahnya tersebut ialah dikarenakan truk pengakut penambangan bertonase berat yang beroperasi 24 jam melintasi jalan desa di wilayah setempat.

"Sehingga dari situlah membuat daerah kami ini terkena polusi debu dari truk pengangkut penambangan tersebut. Selain itu akibat dari truk iu pula membuat jalan desa di kami ini rusak yang mengakibatkan kerapkali terjadinya para pengendara sepede motor yang jatuh lantaran jalan di desa kami itu kondisinya rusak dan berlubang," jelasnya.

Karenanya, mereka meminta kepada Pemkab Pasuruan dan juga para pengusaha yang ada di wilayah tersebut untuk bisa memperbaikinya dengan segera agar tidak sampai menelan korban jiwa. [bej/rif]

Bebek Mati Mendadak Akibat Flu Burung, Petenak Merugi

JOMBANG, ArtiNews - Virus flu burung melanda kota santri. Setidaknya, 3.000 ekor bebek di wilayah Kabupaten Jombang mati mendadak akibat serangan virus H5N1 ini.

Serangan virus yang menyerang unggas yang terjadi sejak Desember 2013 lalu itu menyebabkan peternak mengalami kerugian puluhan juta rupiah. Seperti dialami peternak bebek Desa Alang-alang Caruban, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang.

Peternak hanya bisa pasrah melihat hewan ternaknya mati. Antisipasi yang dilakukan, yakni membakar bebek yang mati agar tidak menular ke bebek yang masih hidup.

Mereka mengaku serangan virus flu burung terjadi sejak bulan Desember tahun lalu hingga kini. “Mulai awal Desember (2013) sampai sekarang, dalam sehari, rata-rata sekitar 200 ekor bebek yang mati,” terang Tono, seorang peternak desa setempat, Minggu (12/01/2014).

Menurutnya, tak kurang dari 3.000 ekor bebek di desanya mati akibat virus flu burung. “Rugi puluhan juta rupiah,” akunya menyebut angka kerugian akibat serangan avian influensa tersebut.

Tak banyak yang bisa dilakukan para peternak selain membakar ayam yang mati dan hanya pasrah. “Yang diharapkan peternak, ya ada bantuan untuk membasmi virus flu burung dari dinas terkait,” harap Tono. (rg/rif)

Pembangunan Proyek RSUD Koesma Rp 4,8 Miliar Molor

TUBAN, ArtiNews - Pekerjaan pembangunan gedung rawat inap kelas III tambahan, di sisi timur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr R Koesma Kabupaten Tuban, ternyata molor dari jadwal.

Dari papan proyek yang terpasang di sisi timur proyek, pelaksanaan sudah dimulai Juli 2013 dan berakhir Desember 2013. Nilai proyek Rp 4,8 miliar, berasal dari APBD Kabupaten Tuban 2013.

Hingga Minggu (12/11/2014) sore, bangunan yang dikerjakan belum seluruhnya selesai. Di lantai bawah masih tampak sejumlah pekerja memasang kusen, bahkan pemasangan tegel juga belum selesai. Hanya dinding dan ruang dalam ruangan yang sudah selesai.

Pada bangunan di atasnya, malah belum sepenuhnya tergarap. Masih ada kayu-kayu penahan atap dan dinding yang terpasang. Dinding serta bagian atap di lantai dua juga masih belum genap terpasang. Jika diprosentase, baru sekitar 70 persen bangunan yang tergarap.

Direktur RSUD Dr R Koesma, Zainul Arifin membenarkan jika pembangunan proyek itu molor. Hanya saja, ia belum bisa menjelaskan sanksi pada kontraktor, dikarenakan belum melihat kontrak perjanjian. "Untuk denda persisnya akan saya lihat kontraknya," kata Zainul, Minggu (12/1/2014).

Untuk diketahui, penambahan ruang perawatan kelas III terkait diberlakukannya aturan baru Badan Penyelanggara Jaminan Sosial (BPJS) masyarakat. Dengan adanya penambahan ruangan itu, diharapkan jumlah pasien yang biaya perawatannya ditanggung pemerintah bisa semakin besar. [tri/rif]

Sopir Hilang Konsentrasi, Truk Disambar KA Malabar

Truk dalam kondisi ringsek (foto: Humas Polres Blitar) 
BLITAR, ArtiNews - Sebuah truk bermuatan ayam bernopol AG 9211 P ringsek disambar kereta api (KA) Malabar tujuan Bandung - Malang, Jumat (10/1/2014) pagi. Kecelakaan ini terjadi di perlintasan kereta api tanpa palang pintu di jalan depan Kantor Desa Pasirharjo, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar.

Berdasarkan informasi, saat itu truk yang dikemudikan Sugito (43), warga Desa Bangle Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar dengan membawa penumpang Pramono (40) warga Kelurahan Gedok Kecamatan Sananwetan Kota Blitar dan Ahmad Sanuri (41) warga Desa Kendalrejo KecamatanTalun Kabupaten Blitar itu, sedang melaju dari arah selatan. Saat akan melintasi perlintasan KA, dari arah barat muncul KA Malabar jurusan Bandung - Malang. Karena sopir berhenti terlalu mepet dengan perlintasan, kereta tersebut langsung menghantam bagian kepala truk sebelah kiri.

Warga sekitar yang mengelatui kecelakaan ini langsung melaporkan ke Polres Blitar, jaraknya tidak jauh dari lokasi kejadian. Petugas yang mendapat laporan langsung mendatangi lokasi guna melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Hasil olah TKP, diduga sopir truk hilang konsentrasi saat mengemudikan kendaraannya. Sehingga pada saat akan melintasi perlintasan tanpa palang pintu, tidak memperhatikan datangnya kereta dan suara sirine.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan ini. Hanya Ahmad Sanuri, penumpang truk menderita luka lecet terkena serpihan kaca truk yang pecah.

Sementara, Kasat Lantas Polres Blitar, AKP Mario mengatakan, kecelakaan antara truk dengan KA Malabar terjadi di perlintasan kereta tanpa palang pintu. "Diduga akibat sopir truk yang kurang berkonsentrasi saat mengemudikan kendaraannya," kata AKP Mario. (hum/rif)

Menengok Tradisi Rabo Pungkasan di Banyuwangi

BANYUWANGI, ArtiNews - Sedikitnya, ratusan warga Banyuwangi berkumpul di Pantai Cacalan, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, untuk melaksanakan tradisi Rabo Pungkasan, atau Rebo Wekasan, atau Rabu terakhir di bulan Shafar, (01/01/2014).

Pelaksaan tradisi itu, masyarakat makan bersama dengan keluarga di tepi pantai sambil mandi di laut sebagai bagian dari tradisi Rabo Pungkasan, yang bertepatan dengan tahun baru 1 Januari 2014.

Menurut Ribut Haritono, Ketua Komunitas Penyelamat Pantai Cacalan, Rabo Pungkasan merupakan tradisi turun temurun dan menjadi kebiasaan masyarakat Banyuwangi. "Rabo Pungkasan adalah hari rabu terakhir di bulan Shafar. Sedangkan bulan Shafar adalah bulan kedua dalam penanggalan hijriah Islam," jelasnya, Rabu (01/01/2014).

Menurutnya, kepercayaan kebanyakan masyarakat pada Rabu terakhir di bulan Shafar akan banyak malapetaka yang terjadi, terutama di sumber mata air.

"Karena itu warga berkumpul di pantai untuk bersama-sama berdoa dengan keluarga agar dijauhkan dari marabahaya dan mereka makan bersama dengan bekal yang di bawa dari rumah dan diakhiri dengan mandi di laut," jelas Ribut.

Sementara Titik Maspuah (45), warga Kelurahan Lateng mengaku datang bersama keluarga besarnya dengan menyewa angkutan umum. "Ada 8 orang bareng-bareng, mulai dari anak menantu sama cucu. Sengaja bawa makanan dari rumah mumpung Rabo Pungkasan dan pas tanggal merah juga" jelasnya.

Tradisi Rabo Pungkasan tersebut diawali dengan arak-arakan hasil bumi dan tumpeng keliling desa yang berakhir di Pantai Cacalan. Dilanjutkan dengan doa dan makan bersama dengan pengunjung Pantai Cacalan. Mereka juga dihibur dengan pertunjukan trdisional Jaranan satu hari penuh sampai menjelang magrib di tepi Pantai Cacalan. [kom/rif]

Tinggalkan Sampah, TNTBS Beri Sanksi Para Pendaki

MALANG, ArtiNews - Jelang akhir tahun 2013, diperkirakan 13 ribu lebih wisatawan dari berbagai daerah bakal merayakan pergantian tahun 2014 di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNTBS).

Dari data Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, hingga Selasa (31/12/2013) siang, sekitar lebih 3 ribu pendaki merayakan tahun baru di Gunung Semeru dan sekitar 10 ribu wisatawan di Bromo," kata Kepala Balai Besar TNBTS Ayu Dewi Utari, Selasa (31/12/2013).

Menurutnya, malam pergantian tahun 2014, jumlah pendaki yang ke Semeru berkisar antara 3 ribu sampai 4 ribu pendaki. Sedangkan pendaki pada sepekan terakhir tahun 2012 ini mencapai 10 ribu lebih pendaki yang berasal dari berbagai daerah. Terbanyak berasal dari daerah Jawa Barat.

Pada tahun 2013 ini, Balai Besar TNBTS sudah mengantisipasi berbagai kemungkinan untuk pengamanan dan pengawasan pendaki di malam pergantian tahun dengan menggelar Pekan Peduli Semeru yang dilaksanakan mulai 23 Desember 2013 hingga 5 Januari 2014. Dalam pelaksanaan ini, pihak Taman Nasional menggandeng mahasiswa pecinta alam dan pihak-pihak terkait untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi.

Ayu menghimbau, agar saat melakukan pendakian hendaknya membawa sampahnya kembali turun, dan tidak meninggalkannya di areal pendakian. Petugas, lanjut Ayu, juga akan memeriksa dan menimbang barang bawaan para pendaki untuk dicek apa saja yang mereka bawa ke atas.

Ayu juga berpesan, agar berhati-hati dalam merayakan malam pergantian tahun baru di Semeru. Pasalnya, cuaca di kawasan Semeru terus-menerus diguyur hujan dan dimungkinkan terjadi longsor serta pohon tumbang sewaktu-waktu.

Dikatakannya, sebanyak puluhan petugas gabungan disiagakan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan di sepanjang jalur pendakian Gunung Semeru. "Sebanyak 50 petugas disiagakan di beberapa titik untuk mengamankan dan berjaga-jaga. Di masing-masing titik akan dijaga kurang lebih 50 petugas gabungan, terdiri dari Polhut, Mapala,SAR, serta dari tim TNBTS sendiri," katanya.

Petugas gabungan ini, tambah Ayu, akan disiagakan hingga tanggal 5 Januari 2014 nanti. Selain guna mengantisipasi semua kemungkinan yang bakal terjadi, mereka nantinya akan diturunkan untuk membersihkan sampah yang diperkirakan bakal menumpuk di sepanjang jalur pendakian yang ditinggalkan oleh para pendaki.

Ayu menandaskan. pihaknya juga bakal memberikan sanksi bagi pendaki yang ketahuan tidak membawa sampahnya kembali turun ke bawah. (henky)

Empat Pembersih Palung PG Kebonagung Tewas

Dua dari empat mayat pekerja PG KBA
MALANG, ArtiNews - Nasib naas menimpa empat pekerja pembersih palung penampung tetes PG Kebonagung (KBA), Kabupaten Malang. Mereka ditemukan tewas, Sabtu (28/12/2013). Para pekerja ini diketahui karyawan CV Dinarta, Kelurahan/Kecamatan Pesantren, Kediri. Perusahaan ini dikontrak khusus untuk membersihkan kerak sisa-sisa tetes. Awalnya mereka bekerja sembilan orang. Pukul 11.00 WIB mereka mulai masuk ke dalam palung.

Menurut Sugiono, salah satu pekerja yang selamat, mereka sudah berhasil membersihkan palung kedua. Tapi, saat akan membersihkan palung kedua, adiknya yang bernama Harianto masuk lebih dulu. Tiba-tiba Harianto pingsan di dalam palung. Sugiono yang mencoba menolong, namun dirinya juga ikut pingsan.

"Saya tidak tahu penyebabnya. Tahu-tahu saya pingsan dan sudah ada yang menolong. Saat tersadar, sudah ada empat pekerja yang meninggal," katanya.

Selain Harianto, korban kecelakaan kerja ini adalah Pujiono, Armi dan Mujianto. Mereka kemudian dievakuasi ke kamar mayat Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang.

Keempat jenazah menebarkan aroma tetes yang sangat harum. Sugiono menduga, ada gas yang membuat teman-temannya keracunan.

Sementara itu secara tepisah, Disnakertrans Kabupaten Malang akan memeriksa lokasi terjadinya kecelakaan kerja di PG Kebonagung (KBA) yang menyebabkan empat pekerja CV Dinarta Kediri, Harianto, Pujianto, Mujianto dan Armi Uspahadi tewas saat membersihkan palung.

Kadisnakertrans, Djaka Ritamtama mengatakan, tim akan fokus mengecek palung dan mencari solusi agar tidak terjadi lagi kejadian seperti ini. Tim juga memastikan, hak-hak pekerja dan santunan akibat kejadian itu. "Kalau ranah kepolisian adalah mencari yang salah dari kejadian itu. Kalau kita, tidak memberikan soal sanksi-sanksi," katanya.

Terpisah, Kapolsek Pakisaji AKP Sri Amung menyatakan, kasus PG KBA sudah dilimpahkan ke Satreskrim Polres Malang sejak Sabtu (28/12/2013). Keempat korban sudah diotopsi di RSSA Malang.

Hari Libur Tidak Bisa Kawin, Kejari Kediri Didemo Warga

KEDIRI, ArtiNews - Kasus dugaan pungutan liar (pungli) yang dilakukan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kota Kediri, Romli, berimbas. Banyak warga Kota Kediri yang tidak bisa melangsungkan perkawinan karena penghulu tidak bersedia menikahkan pada hari libur. Padahal warga berpedoman pada adat-istiadat yakni berdasar hitungan Jawa.

Karena tidak dapat menikah di hari libur, puluhan warga Kota Kediri menggeruduk Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat di Jl Jaksa Agung Suprapto, Kota Kediri, Senin (16/12/2013). Mereka mendesak, terdakwa Romli dibebaskan.

"Masyarakat di Jawa memegang teguh adat-istiadat hari pasaran. Misalnya, hari geblake mbahe (hari meninggalnya kakek atau neneknya), tidak dapat digunakan untuk melangsungkan pernikahan," ujar Tomi Ari Wibowo, koordinator aksi.

Pasca kemelut di KUA Kecamatan Pesantren ditangani Kejaksaan, penghulu tidak bersedia datang ke rumah calon pengantin. Mereka takut terjadi gratifikasi. Menurut massa, pemberian amplop atau uang sekedarnya sudah menjadi budaya, dan masyarakat menganggap uang tersebut sebagai pengganti uang transport untuk penghulu.

Massa juga membentang poster yang dibawanya untuk para jaksa yang sudah menangani kasus Romli. Diantaranya bertuliskan, "Budaya Nikah Terinjak-Injak. Kami P3N Bergaji Rendah. Bebaskan Bapak Romi, Kepala KUA Dari Tahanan"

Sementara pasangan calon pengantin, Jonatan dan Cindy yang gagal menikah karena tidak dapat penghulu sempat berbuat nekad. Mereka menanggalkan pakaian di depan puluhan petugas kepolisian yang mengamankan jalannya aksi dengan para jaksa.

"Kami hanya butuh penghulu untuk menikah. Apakah semuanya ingin kami kumpul kebo, karena tidak bisa menikah," kata Cindy.

Untung saja, seorang polwan bergegas menghampiri dan melarang agar tidak berbuat nekad. Mereka kemudian digiring keluar barisan demonstran sembari diminta tetap memakai pakaian.

Aksi unjuk rasa masyarakat itu ditanggapi oleh Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Kediri Sundaya. Dia tidak memenuhi tuntutan warga untuk melepaskan Romli, karena sudah menjadi kewenangan Pengadilan Negeri Tipikor Surabaya.

Dijelaskan Sundaya, kasus yang dihadapi pak Romli, berawal dari persyaratan pernikahan yang harus dipenuhi calon pengantin di P3N. Pengantin mendaftar di KUA. Di papan pengumuman disebutkan biaya resmi Rp 30 ribu. Namun tidak dalam prakteknya. Setelah melalui tahap penyelidikan, akhirnya Kejaksaan menetapkan Romli sebagai tersangka.

"Kalau minta penangguhan, maka ajukan permohonan penangguhan. Sebenarnya, dulu pernah ada yang mengajukan penangguhan penahanan untuk pak Romli, tapi kita tolak, karena sehari setelah kita limpahkan," tegas Sundaya.

Masih kata Sundaya, mengenai persoalan pernikahan karena penghulu menolak melayani diluar jam dinas, bukan kewenangan Kejaksaan. Oleh sebab itu, ia tidak berwenang untuk menjawab permasalahan itu.

Meskipun mendapat jawaban dari Kejaksaan, tetapi massa tidak merasa puas. Mereka menganggap terjadi ketimpangan proses penegakan keadilan. Kejaksaan hanya tegas terhadap kasus kecil dan mengaburkan kasus-kasus besar seperti, pembangunan RSUD Gambiran II Kediri dan Pengadaan Buku Kegiatan Siswa (BKS) 2009. Massa pun kemudian membubarkan diri, meninggalkan kejaksaan.

Perlu diketahui, kasus gratifikasi biaya nikah dengan terdakwa Kepala KUA Kecamatan Kota Kediri, Romli kini sudah memasuki masa sidang. Sidang lanjutan akan digelar pada, Kamis (19/12/2013) besok dengan agenda putusan sela. [bej/rif]

Normalisasi Saluran Pematusan, PTPN X Gelontor Rp 1,28 M

SIDOARJO, ArtiNews - PT Perkebunan Nusantara X (Persero) menggelontorkan dana Rp 1,28 miliar melalui program corporate social responsibility (CSR). Program ini sebagai bentuk kepedulian dengan lingkungan sekitar.

Program PTPN X itu berupa normalisasi dan pendalaman saluran pematusan air di sejumlah desa di sekitar 20 desa di enam kecamatan, yaitu Kecamatan Tulangan, Prambon, Krian, Krembung, Balongbendo dan Tarik, sepanjang 34.750 meter dengan volume 141.220 meter kubik.

Sekretaris Perusahaan PTPN X, M. Cholidi mengatakan, sumberdaya air sangat penting bagi kemajuan sektor pertanian dan peningkatan kualitas kehidupan publik secara luas. Termasuk untuk mewujudkan terciptanya keberlanjutan lingkungan yang sehat.

"Pengerjaan normalisasi dan pendalaman saluran pematusan di Sidoarjo ini dilakukan mulai akhir September 2013, untuk mendukung lingkungan sehat. Ini juga sebagai tanggung jawab sosial perusahaan, PTPN X membangun infrastruktur sumberdaya air yang memadai ini," katanya, Selasa (10/12/2013).

Selama ini, lanjut dia, ada sejumlah saluran pematusan yang tidak lancar. Padahal, saluran pematusan berfungsi penting dalam sistem pengairan, seperti selokan yang berfungsi sebagai penampung air hujan, yang nantinya dialirkan ke saluran air yang lebih besar.

Jika saluran pematusan tidak lancar, maka bisa menimbulkan banjir di areal persawahan dan permukiman masyarakat. Produktivitas lahan, mulai dari lahan padi, palawija, hingga tebu, bisa terganggu.

"Agar saluran pematusan bisa berfungsi baik, PTPN X melalui tiga unit usahanya di Sidoarjo yakni Pabrik Gula (PG) Toelangan, PG Kremboong, dan PG Watoetoelis, melakukan normalisasi dan pendalaman bekerja sama dengan Pemkab Sidoarjo. Program ini sekaligus bagian dari pemberdayaan masyarakat, sekaligus ikut menyerap tenaga kerja," jelasnya. [bej/rif]

Didemo Buruh, PR Kompas Agung Janji Lunasi Gaji

MALANG, ArtiNews - Pabrik Rokok (PR) Kompas Agung Kota Malang berjanji akan melunasi gaji buruhnya. Hal itu setelah ratusan buruh menggelar aksi demonstrasi menuntut adanya pelunasan gaji pasca dirumahkan sejak lima bulan yang lalu, Rabu (4/12/2013).

David, Manajer Akuntan PR Kompas Agung mengungkapkan, pihak perusahaan akan melunasi gaji buruh sebesar Rp 1.440.000. Jumlah itu merupakan pelunasan gaji buruh sebesar Rp 120 ribu per minggu selama 12 minggu. "Gaji itu akan kami bayarkan pada 31 Desember 2013 mendatang," kata David.

Gaji buruh pasca dirumahkan, tambah David, awalnya Rp 100 ribu per minggu. Namun pihak perusahaan berencana menambah Rp 20 ribu per minggu. "Tambahan ini sebagai bentuk kompensasi pada buruh karena kami telah molor memberikan gaji delapan minggu terakhir," terangnya.

Ditanya soal alasan telatnya pembayaran gaji, David mengakui jika pihak perusahaan sedang mengalami masalah keuangan. Sehingga terpaksa tak beroperasi sejak lima bulan lalu. Namun ia optimis pada 2014 mendatang perusahaan rokoknya bisa kembali beroperasi.

"Salah satu alasan permasalahan keuangan karena adanya kenaikan cengkeh sebesar 500 persen, dari Rp 50 ribu per kilogram, menjadi Rp 250 per kilogram," tuturnya.

PR Kompas Agung sendiri telah berdiri di Malang sejak tahun 1968, dengan jumlah produksi rokok 1 juta hingga 3 juta batang rokok per hari. [hey]

CCTV Mati, Calo SIM Berkeliaran

PASURUAN, ArtiNews - Terobosan baru oleh Kepolisian Resort (Polres) Pasuruan, Jawa Timur, dengan memasang CCTV di tempat pembuatan SIM, menjadi jurus jitu Polres Pasuruan meminimalisir tingginya praktik percaloan SIM. Juga terpampang jelas slogan "Bantu, Awasi Kami Dalam Transparasi Pelayanan SIM".

Tapi, terobosan itu ternyata sia-sia saja. Pasalnya, CCTV yang dipasang itu nyatanya tidak berfungsi alias mati. Padahal, CCTV tersebut berfungsi untuk mengawasi kegiatan proses pembuatan SIM (Surat Izin Mengemudi) agar transparan dan tidak ada banyak calo berkeliaran yang berujung pungli (pungutan liar).

Tak ayal, kondisi ini dimanfaatkan oleh calo untuk mencari keuntungan. Dengan leluasa mereka menawarkan jasa pembuatan SIM, dengan tawaran cepat dan mudah, dan dijamin lulus meski tanpa melalui tes.

"Saya membuat SIM C dengan biaya Rp 350 ribu, tanpa tes langsung foto dan dua hari jadi. Harga segitu sudah umum," tutur Ulfa, salah satu pemohon SIM kepada ArtiNews.

Kepala Baur SIM setempat saat dikonfirmasi terkait matinya CCTV, tidak mau menjawab. Pun demikian saat mengkonfirmasi bagian SIM lainnya, mereka enggan berkomentar.

ArtiNews mendapati, tarif SIM C yang diberlakukan di Kabupaten Pasuruan sebesar Rp. 350 ribu. Sementara SIM A/B kisaran Rp 450 ribu hingga 650 ribu. Sedangkan dalam PP 50 Tahun 2010, PNBP hanya Rp 100 ribu untuk SIM C Baru, dan Rp 120 ribu untuk SIM A/B I/II Biasa/Umum.

Kendati demikian, masih banyak pemohon yang berani membayar mahal asalkan tidak ribet dan cepat tanpa melalui tes. Semua itu dikarenakan kurang ketatnya pengawasan Polres Pasuruan terhadap praktik percaloan yang masih dibiarkan berkeliaran. (tim)
 
Support : Anas
Copyright © 2013. Arti News - All Rights Reserved